Advertise

Powered by Blogger.
Sunday, August 10, 2014

"This is Gaza, Not Hollywood"

0 comments

Wawancara dengan salah satu pejuang Al-Qassam

Prolog: wawancara ini berlangsung antara Dr. Faez Abu Shammaleh dengan Mahmud, salah satu pejuang Izzudin Al-Qassam (sayap militer Hamas) yang berhasil keluar dari terowongan, setelah 20 hari lebih ia bersama 23 pejuang Al-Qassam "terkubur" di dalam terowongan tersebut.

Kepada mereka yang masih ragu-ragu dan mengatakan: pejuang Palestina kalah…. Kepada mereka yang kehilangan kepercayaannya kepada diri dan qiyadahnya, yang mengatakan: ini hanyalah bualan film Bollywood (filmIndia), yang ceritanya diambil dari kisah film Hollywood….

Kepada mereka semua, kami sampaikan: memang, ini hanya terjadi di Gaza saja… setelah 20 hari tertanam di dalam tanah. Akhirnya, Mahmud, bisa keluar dari terowongan dengan selamat… Berikut petikan wawancara selengkapnya:

T: Apa gelar sarjana Anda?

J: Bachelor (sarjana)

T: Berapa lama Anda tertahan di dalam tanah (terowongan)?

J: 20 hari, tidak kurang tidak lebih

T: Berapa jumlah orang yang keluar dari terowongan dengan selamat?

J: 24 orang

T: Apa yang terjadi kepada Anda dan teman-teman Anda?

J: Pesawat-pesawat tempur Israel menembaki pintu-pintu terowongan. Ada beberapa pintu terowongan, kami yang menutup sendiri karena pihak Zionis Israel memasukan gas beracun ke dalam terowongan.

T: Bagaimana Anda dan teman-teman menghabiskan waktunya di dalam terowongan yang gelap gulita?

J: Kami sholat, bersenandung, bernasyid, bercengkrama satu dengan yang lainnya. Kami tidak pernah putus asa hingga detik-detik terakhir….

T: Apa yang Anda makan dan teman-teman Anda?

J: Sebelumnya kami membawa korma, karena terbatas, masing-masing kita mendapatkan bagian separuh dari satu butir korma, setiap harinya.

T: Lalu apa yang Anda minum?

J: Di beberapa dinding terowongan, ada genangan air. Bahkan di akhir-akhir, air itu bertambah, bahkan kami khawatir kami akan tenggelam dengan banyaknya air tersebut.

T: Berapa jarak antara posisi Anda dengan muka bumi?

J: Sekitar 25 meter

T: Bagaimana Anda bisa mendekat dengan genangan air tersebut, kemudian Anda meminumnya sementara tidak ada penerangan sama sekali, gelap gulita?

J: Kami punya alat-alat penerang yang kami gunakan saat darurat saja. Kami khawatir batereinya habis di detik-detik terakhir. Biasanya, salah satu dari kami mengumpulkan air sebanyak 40 liter setiap harinya.

T: Apakah Anda bisa berkomunikasi dengan luar?

J: Komunikasi benar-benar putus sama sekali, kami tidak tahu apa yang terjadi di sekitar kami.

T: Apakah Anda dan teman-teman juga tahu, hari ini, hari apa, jam berapa dan tanggal berapa?

J: Kami menghitung hari sesuai dengan hari-hari Ramadhan. Oleh karena itu, kami berpuasa selama 30 hari. Ketika hari raya, hari Senin, kami merayakannya di hari Selasa. Kami tahu malam dan siang, melalui jam
tangan yang kami pakai.

T: Apakah Anda sempat kehilangan harapan untuk selamat?

J: Kami tetap optimis untuk selamat, tidak hilang harapan. Kami sholat berjamaah, berdoa kepada Allah secara bersama-sama. Kami sempat berupaya menggali agar bisa keluar. Akhirnya ada di antara kami gugur syahid saat penggalian tersebut. Bersamaan dengan waktu yang berjalan, tubuh-tubuh kami pun mulai melemah. Sehingga kami tidak mampu lagi untuk menggali.

T: Setelah itu, masihkah Anda dan teman-teman Anda punya harapan hidup?

J: Awalnya, harapan untuk selamat itu besar sekali. Kami memperkirakan gencatan senjata terjadi pada hari raya. Namun sehari setelah hari raya, gencatan senjata itu juga belum terjadi, harapan untuk selamat mulai rendah dan tubuh kami mulai melemah.

T: Terkait cuaca atau suhu di dalam terowongan seperti apa?

J: Terkadang berhembus kepada kami, angin yang segar dan membugarkan kami. Tapi kami tidak tahu, dari mana angin tersebut datang.

T: Apakah di antara teman-teman Anda, sempat terjanggit sakit saat di dalam terowongan?

J: Iya ada, tapi obatnya dengan baca Al-Qur’an dan membasuh wajahnya dengan air.

T: Apakah Anda dan teman-teman Anda, sempat mengalami depresi dan kehilangan harapan?

J: Kami manusia biasa, malam-malam bagi kami sangat berat. Kami jarang tidur. Kami juga mengalami depresi kehilangan harapan untuk hidup. Namun di pagi hari, kami kembali bercengkrama kembali dengan teman-teman berbicara tentang mimpi-mimpi kami. Tentang keselamatan yang akan datang kepada kami.

T: Bisa dijelaskan kepada kami, seberapa besar kegembiraan Anda semua saat Anda ditemukan dalam keadaan sehat dan hidup?

J: Kami mendengar suara alat yang menggali di sekitar kami. Awalnya kami sempat ragu, kamipun kembali masuk ke dalam terowongan. Tapi di antara kami, ada yang mendekat ke sumber suara galian untuk mencari berita. Setelah dua jam kami menunggu, kami kemudian mendengar suara: Allah Akbar, wa lillahil hamd

Kamipun kemudian bertakbir gembira, kami tahu kami sudah selamat. Terowongan pun dipenuhi dengan suara takbir menggema…. Allah Akbar….Allah Akbar….Allah Akbar….

*sumber: https://www.facebook.com/mhmd.alqwqa.5
(pengirim: oma yuma)

Read more...
Wednesday, August 6, 2014

Belajar "Kemustahilan" dari Anak Muda SMK yang Mendunia

0 comments

SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.

Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.

Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.

”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).

Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya.

Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.

Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.

Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.

”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.

Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.

Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.

Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.

”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.

Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.

Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.

”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”

Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.

Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.

”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.

Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.

”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.

Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.

Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.

”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.

Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.

”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.

Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.

”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.

Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin.

”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.

Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.

”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.  (*/c9/ari)

*sumber: jppn

Read more...
Tuesday, August 5, 2014

#UPDATE (5/8/2014) Sebulan Agresi Zionis ke Gaza: 1867 Gugur

1 comments

Gaza – Kementrian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza hari ini, Selasa (5/8/2014), mengumumkan bahwa sebulan agresi penjajah Zionis ke Jalur Gaza telah menelan korban sebanyak 1867 warga gugur dan 9563 luka-luka.

Dalam laporan harian yang diterbitkan hari ini, Kementrian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengatakan bahwa di antara korban yang gugur ada 429 bocah, 243 wanita dan 79 orang lanjut usia.

Sedangkan di antara korban yang luka-luka ada 2877 anak-anak, 1853 wanita dan 374 lansia. Kementrian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa sebanyak 153 korban luka sedang dalam perawatan intensif (ICU), sehingga jumlah korban masih ada kemungkinan terus bertambah.

Kementrian Kesehatan mengingatkan bahwa sejumlah wilayah di Jalur Gaza masih di bawah gempuran sengit dan tim medis belum bisa menjangkau lokasi untuk mengevakuasi jasad korban.

Kementrian Kesehatan juga menyampaikan jumlah korban yang meninggal dalam serangan Zionis terhadap sekolah-sekolah Badan Bantuan dan Pemberdayaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), sebanyak 38 orang gugur.

Sementara itu sebanyak 112 wartawan gugur sejak awal agresi berlangsung, ditambah 12 anggota tim penyelamat dan 7 anggota pertahanan sipil. (infopalestina.com/asw)

***

Suripto: Boikot Produk Pro-Zionis!

Ketua Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Pusat, Suripto, mengatakan strategi paling mujarab untuk menghentikan agresi Israel ke Gaza yakni dengan melakukan gerakan BSD yakni Boikot, Sanksi dan Divestment. Cara yang riil yang bisa dilakukan warga Indonesia dengan memboikot semua produk-produk buatan Israel yang beredar di Indonesia. Misalnya air minum kemasan, kurma dan makanan siap saji.

Dengan melakukan boikot secara bertahap dan konsisten maka akan menghambat pasokan dana Israel dalam melakukan agresi. “Ini akan menjadi gerakan baru yang membuat mereka gentar (Israel) kalau seluruh umat Islam komitmen melakukan gerakan ini,” imbuh Suripto.

Selain itu, di bidang budaya masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi fashion yang berbau Yahudi dan menghentikan konsumsi film buatan bangsa Yahudi. “Di Malaysia itu luar biasa. Restoran McD kosong saat ramadhan ini. Padahal tahun lalu selalu penuh. Kalau kita ingin konsisten minimal dimulai dari kita,” imbuh Sekjend PAHAM, Sylvia Abdul Hamid. (ROL)

INI DAFTAR PRODUK PRO-ZIONIS. KLIK INI

Read more...
Monday, August 4, 2014

Boikot Starbuck Merebak di Seluruh Dunia

0 comments

Aksi boikot Starbucks semakin merebak di seluruh dunia seiring agresi Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza yang menelan 1.760 korban jiwa (data per 3/8/2014, perang hari ke-28).

Sebenarnya tak hanya Starbucks yang dituding memiliki kedekatan dengan negara zionis Israel. Ada beberapa perusahaan ternama dunia yang banyak membantu Israel. Sebut saja McDonald, Coca-cola, dan sederet perusahan beken lainnya.

Salah satu pesan boikotnya yang berbunyi ‘Secangkir Starbucks Senilai Setetes Darah Palestina dan Lebanon’ disebarkan warga Arab Saudi dan membuat pendapatan gerai kopi internasional itu menurun.

Lebih-lebih, setelah aksi boikot itu didukung oleh Dr. Abdul Wahhab bin Said Al Qahthani. Asisten dosen fakultas manajemen dan pemasaran di Universitas Malik Fahd ini menuliskan keprihatinannya.

“Bagaimana kita bisa menikmati kopi Starbucks, bila kita menyadari bahwa harta kita disumbangkan untuk mendukung Israel yang semakin ganas membantai umat Islam?” tulisnya.

Maklum, sebagian dari hasil penjualan Starbucks yang mencapai US$14,9 miliar per tahun itu, disumbangkan ke Israel.

Dalam sebuah suratnya, Howard Schultz, Chairman & Chief Global Strategist Starbucks pernah menyebutkan, “Tanpa anda, para pelanggan tercinta, kami tidak akan mampu mengirim bantuan US$5 miliar per tahun membeli perlengkapan perang, buldoser dan pagar pengaman untuk melindungi warga Israel dari serangan teroris anti-Semit,” tulisnya.

“Tolong diingat, bahwa setiap cangkir yang Anda minum di Starbucks, sangat membantu sebuah misi yang berharga,’’ sambungnya.

Kedekatan Howard Schultz dengan Israel tak diragukan lagi. Lelaki berusia 61 tahun itu, dilahirkan dari keluarga Yahudi di Brooklyn, New York. Pada 1998, Schultz pernah mendapat penghargaan ‘The Israel 50th Anniversary Friend of Zion Tribute Award’ oleh yayasan Jerusalem Fund Aish HaTorah, karena peranannya yang cukup besar mempromosikan hubungan AS dan Israel.

Pada 2002, Kementerian Luar Negeri Israel juga mendukung Howard Schultz sebagai kampiun PR (public relation) bagi Israel, karena pidatonya yang menuduh Palestina sebagai organisasi teroris, dan gerakan intifada sebagai perlawanan anti-Semit. (atjehcyber.net)



Read more...
Thursday, July 31, 2014

Agar Tidak Putus Asa

0 comments

Putus asa akan menghampiri kita saat kita menempuh perjalanan yang panjang atau mendapatkan kegagalan dari perjalanan-perjalanan yang kita tempuh. Bagaimana agar kita tidak putus asa?

Mari kita ibaratkan perjalanan panjang seperti lari marathon. Anda pernah marathon? Yang kita rasakan pada saat kita sedang berlari dalam jarak yang jauh ialah keinginan segera berhenti, minum, dan beristirahat. Lalu mengapa tidak berhenti? Jika Anda berlari atas inisiatif sendiri, kemungkinan Anda berhenti akan lebih besar ketimbang seorang atlit yang sedang berlomba. Mengapa? Karena imbalan yang akan didapat lebih menarik dan lebih jelas. Kalau dia tidak sampai, bukan hanya tidak akan mendapatkan juara, tetapi juga malu. Jadi agar Anda tidak putus asa, maka Anda harus memiliki tujuan yang sangat menggairahkan Anda dan jelas.

Mungkin saja, saat kita berlari, kita tidak ingin untuk berhenti. Tetapi akhirnya berhenti juga karena kita sangat kelelahan. Dengan kata lain energi kita sudah terkuras habis. Seorang atlit tidak akan mudah kelelahan karena dia memiliki energi yang cukup. Energi yang tentu saja didapat dari latihan yang cukup dan makanan yang dikonsumsinya. Begitu juga jika kita tidak ingin cepat putus asa maka kita harus memiliki energi yang cukup. Baik energi dalam arti sebenarnya, maupun energi dalam arti motivasi.

Gagal lagi, gagal lagi, dan gagal lagi. Hal seperti ini pun akan memungkinkan kita putus asa. Anda telah mencoba, Anda telah bersabar, dan Anda telah berusaha, namun kegagalan dan kegagalan yang menemui Anda. Keadaan seperti ini bisa diibaratkan seperti sesorang yang sedang mencari suatu tempat tetapi tidak mengetahui harus lewat mana.

Jika jalan yang Anda ketahui sedikit, maka Anda akan cepat berhenti karena tidak ada jalan lagi yang bisa ditempuh. Tetapi jika Anda mengetahui banyak jalan, maka Anda mencoba jalan yang lainnya sampai menemukan jalan yang benar. Semakin banyak jalan yang Anda ketahui dan energi Anda masih cukup maka kemungkin untuk bergerak terus masih sangat memungkinkan.

Jalan yang dimaksud disini adalah ide. Saat Anda gagal dengan satu ide, maka Anda bisa mencoba ide yang lain. Ide tersebut bisa Anda dapatkan baik dari ide sendiri maupun ide dari orang lain. Agar bisa menghasilkan ide sendiri maka diperlukan kreativitas. Sementara untuk mengetahui ide dari orang lain, maka yang diperlukan adalah menuntut ilmu.

Read more...

CLIPS

CLIPS

 
Radio Elnury © 2014 | Designed By Blogger Templates